RANU KUMBOLO, Oase di lereng Gunung Semeru

Ranu Kumbolo di pagi hari yang cerah, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Berawal dari rencana ekspedisi Pecinta Alam Gastronome Arsitektur ITS Surabaya untuk camping di Ranu Kumbolo sambil hunting foto satwa, kami pun memutuskan untuk ke Ranu Kumbolo tanggal 23-24 Oktober 2011. Ranu Kumbolo (2.390 m dpl) merupakan lembah dan terdapat danau/ranu yang luasnya 12 ha.

ilustrasi jalur pendakian menuju Ranu Kumbolo

Daerah ini tempat peristirahatan yang memiliki pemandangan dan ekosistem dataran tinggi yang asli dalam wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan suhu rata-rata 3 – 8 derajad celcius di malam hari dan dini hari. Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di taman nasional ini antara lain luwak (Pardofelis marmorata), rusa (Cervus timorensis ), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak ), ayam hutan merah (Gallus gallus), macan tutul (Panthera pardus ), ajag (Cuon alpinus ); dan berbagai jenis burung seperti alap-alap burung (Accipiter virgatus ), rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), elang ular bido (Spilornis cheela bido), srigunting hitam (Dicrurus macrocercus), elang bondol (Haliastur indus), dan belibis yang hidup di Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo

kawasan bromo tengger semeru dari sisi Tumpang, Malang

Kami ber-15 orang berangkat dari kampus ITS Surabaya dengan mengendarai motor hari Jumat malam pukul 23.00 WIB menuju kota Malang. Kemudian kita singgah sebentar untuk istirahat di kampus Arsitektur Universitas Brawijaya Malang dengan disambut kopi dan tentunya hawa dingin Malang. Perjalanan darat kami tempuh sekitar 2,5 jam dari Surabaya menuju Malang.

bukit teletubbies julukannya, kawasan laut pasir Gunung Bromo dari sisi Tumpang, Malang
bukit teletubies Bromobukit teletubbies julukannya, kawasan laut pasir Gunung Bromo dari sisi Tumpang, Malang

Tepat pukul 07.00 WIB pagi, kami mulai melanjutkan perjalanan menuju desa Tumpang, sebuah desa 1 jam perjalanan motor di sisi timur kota Malang. Di desa Tumpang ini kami melakukan sarapan pagi sekaligus melakukan perijinan pendakian memasuki Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pukul 10.00 WIB kami menuju pos Ranu Pani melalui desa Ngadas dengan medan jalan naik dan terjal berupa jalur makadam (berbatu) dengan pemandangan sawah miring berupa kebun bawang, kol/kubis, wortel di samping kanan dan kiri kita. Ada sebuah cerita sendiri ketika kita melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi, kita bisa beristirahat dan bersantai ria menikmati semua perjlanan menuju pos Ranu Pani sesuai dengan kehendak pribadi. Sawah , udara sejuk, hutan, jalan terjal dan jurang di samping kanan dan kiri serta wajah wajah khas penduduk dengan kostum dingin dan sarung di lehernya menghiasai cerita perjalanan menuju pos Ranu Pani, Lumajang

sudut pemandangan di desa Ranu Pani, Lumajang

Setibanya di Ranu Pani, Lumajang pukul 12.00 WIB, kami memarkir motor kami masing masing dengan tarif Rp. 5.000,-/motor per hari, dilanjutkan dengan perijinan ulang di pos Ranu Pani Rp. 10.000,-/orang, makan siang, sholat dhuhur dan persiapan pendakian dengan kondisi cuaca desa Ranu Pani mulai berkabut. Perkiraan suhu siang itu sekitar 20 derajat Celcius.

perjalanan menuju pos 1 Watu Rejeng

Dengan dimulai do’a keselamatan perjalanan selama pendakian, kami memulai perjalan menuju Ranu Kumbolo pukul 13.30 WIB dengan diawali pemandangan sawah khas desa Ranu Pani. Jalur daki melalui Watu Rejeng kami pilih untuk memudahkan perjalanan yang rata rata dari kami semua adalah pendaki pemula.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang masih asri

Jalur utama umum yang disarankan karena jalur ini sudah di siapkan khusus untuk pendakian ke arah G.Semeru. Jalan berbukit berpaving memudahkan perjalanan awal di KM ke 2, setelah itu semua tersaji secara alami khas gunung dengan tebing, batu besar, pohon besar, semak belukar yang masih alami disajikan indah oleh Allah swt meskipun ada beberapa area pohon yang terbakar karena musim kemarau datang.

anggota Gastronome Arsitektur ITS sejenak beristirahat

Alhamdulillah meskipun dengan jalan terjal dan rintangan termasuk salah jalur pendakian menuju Ranu Kumbolo, kami ber15 orang sampai dengan selamat dan sehat pukul 21.30 WIB malam dengan pemandangan atap langit berbintang serta suhu di Ranu Kumbolo mencapai 14 derajat Celcius.

Ranu Kumbolo ketika matahari terbit
Ranu Kumbolo di pagi hari
suasana damai Ranu Kumbolo di pagi hari
Ranu KUmbolo dari sisi bukit cinta, Ranu Kumbolo

Sebuah sajian sempurna diatas gunung dengan kebersamaan para sahabat merupakan aset yang sangat berharga dan saya pribadi patut untuk dibanggakan. Saya sempat terbangun sekitar pukul 02.00 WIB dini hari dan memperkirakan suhunya sekitar 5-8 derajat Celcius.

 

bukit cinta Ranu Kumbolo
Ranu Kumbolo 2400 DPL dengan background bukit cinta

Ketika berkemas untuk kembali pulang, kami memutuskan untuk pulang melalui jalur Gunung Ayak Ayak yang tidak disarankan untuk jalur pendakian. Jalur Ayak Ayak adalah jalur pendakian alternatif yang biasa dipakai para petani setempat untuk berkebun. Jalur Ayak Ayak merupakan jalur memotong menuju Ranu Kumbolo dengan waktu tempuh normal sekitar 4-5 jam perjalanan siang. Jalur Gunung Ayak Ayak ini sangat tidak direkomendasikan karena berbahaya dan terjal, selain tebing curam, juga rawan longsor ketika hujan karena sebagian besar medannya berupa tanah bergerak yang mudah longsor.

jalur menuju gunung Ayak Ayak
jalur menuju gunung Ayak Ayak
jalur pendakian gunung Ayak ayak
Puncak Gunung Ayak Ayak, disini terdapat satu makam pendaki yang tewas saat pendakian
satu sisi puncak Gunung Ayak Ayak
jalur Ayak Ayak yang tidak direkomendasikan untuk pendakian
saya dan peralatan daki saya yang tidak standart 😀

ditulis oleh Mansyur Hasan W anggota G-8 Gastronome Arsitektur ITS

sumber terkait :

http://id.wikipedia.org/wiki/Ranu_Kumbolo

http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Bromo_Tengger_Semeru

http://groups.yahoo.com/group/gastronome-arsitektur-its/

7 thoughts on “RANU KUMBOLO, Oase di lereng Gunung Semeru

  1. jadi teringat.. ketika itu libur kenaikan dari kelas II SMP ke kls III.. 20 Juni 1985.. usia hampir 15 th.. pemandangan yang sempurna .. bak permadani surga..sejenak tertegun… sangat tdk layak jika kita meninggikan diri kita… tubuh kita laksana seekor semut ketika kita berada di tengah2 pemandangan itu… waktu itu gubuk pendaki masih ada satu… pendakian dilanjutkan setiap tahun hingga aku kuliah di semester 2…th.1990..terakhir waktu itu bertemu dgn tim Yogya “bunga liar”… masih adakah pak Pur.masih adakah Benyamin….masih adakah Pak guru… rindu ingin kembali ke sana..
    salam untuk para pendaki “Mahameru”…sampaikan salamku untuk Mahameru yg telah memberiku banyak syukur kepadaNYA….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *