Monthly Archives: January 2012

BULA, Negeri antah brantah di P.Seram Bagian Timur, Maluku (part2)

 

pintu gerbang pedesaan di kota Bula (foto:mansyur hasan)

Bula, kota kabupaten Seram Bagian Timur memiliki mayoritas penduduk asli Bula dan Ambon 70 persen, sedangkan pendatang dari Jawa dan keturunan Cina masing masing 25 persen dan 5 persen. Penduduk asli Bula lebih banyak bermata pencaharian sebagai nelayan dan perkebunan pala. Sedangkan penduduk pendatang lebih banyak berdagang berjualan di pasar, warung makan masakan Jawa dan toko perancah bahan-bahan makanan pokok.  Adanya warga pendatang Jawa dan keturunan Cina di Bula, memberi semangat baru dalam perkembangan kota Bula itu sendiri baik dalam persaingan perekonomian maupun dalam bekerja sehari hari. Pemeluk muslim di Bula adalah mayoritas sekitar 98% sedangkan sisanya adalah pemeluk Nasrani dan Hindu.

 

salah satu masjid di kota Bula, Seram Timur (foto:mansyur hasan)

Di kota ini tercatat baru ada 2 bank yaitu bank BRI dan Bank Maluku, yang mempunyai mesin ATM dan satu satunya mesin ATM di kota Bula ada di Bank Maluku (ATM Bersama). Ada cerita warga kalau ada keperluan transfer uang ke sanak famili diluar kota sangat kesulitan, tetapi salah satu warga keturunan Cina yang mempunyai koneksi perbankan di Jawa punya alat transfer khusus uang dengan biaya jauh lebih murah daripada transfer melalui Bank Maluku terutama untuk nasabah BCA.

Sinyal komunikasi di dalam kota Bula baru mempunyai 2 BTS Telkomsel (GPRS), 1 BTS Indosat dan baru saja masuk provider XL. Ketika berada di tengah kota, sinyal Telkomsel dapat diandalkan kekuatannya, sinyal Indosat hanya 1-2 strip dan itupun kondisi di pagi hari saja ada. Selebihnya sinyal indosat sangatlah lemah bahkan hilang begitu saja. Diluar kota dengan asumsi lebih dari 5 km dari pusat kota, untuk mendapatkan sinyal Telkomsel yang paling kuat di kota ini, diharuskan untuk keluar rumah dan berada di tepi jalan besar lintas Seram. Alangkah sulitnya untuk mendapatkan sinyal terbaik di kota ini terutama anda pengguna bukan Telkomsel.

Begitu juga dengan warung internet, keberadaan warnet di kota Bula baru ada 2 warnet. Itupun hanya buka pukul 10.00 WITA sampai pukul 18.00 WITA. Para pejabat pemerintah daerah pun sama ketika akan membutuhkan internet perlu pergi dulu ke warnet atau ruang khusus di kantor bupati atau di pendopo kabupaten untuk memanfaatkan internet. Pemakaian modem masih belum efektif karena ketidak stabilan sinyal dari provider.

Sangat berbeda dan bertolak belakang dengan sarana hiburan warga kota Bula, hampir semua warga di Bula sudah menggunakan antena televisi parabola dengan saluran luar negeri demikian banyaknya. Mulai dari warga dengan tingkat perekonomian sederhana sampai tinggi sudah pasti mempunyai antena televisi parabola. Jangan kuatir di kota Bula anda masih bisa melihat pertandingan bola Liga Premier Inggris, Liga Italia ataupun siaran olahraga luar negeri lainya.

 

rumah kayu khas rumah di kota Bula dengan antena parabolanya

Jenis transportasi umum di kota Bula adalah ojek, angkutan kota dan becak. Tarif ojek di dalam kota berkisar Rp.3000 – Rp.5000, tarif jasa ojek keluar kota berkisar Rp.10.000-Rp15.000, angkutan kota tarif paling mahal rp.5000,-untuk jalur keluar kota (lebih dari 8km) sedangkan becak rata rata Rp.5000-Rp.10.000 di dalam kota.

 

angkutan kota di Bula (foto:mansyur hasan)

Makanan khas dari kota bula adalah Dendeng Rusa, tetapi semenjak Rusa dilarang untuk diburu, dendeng rusa bisa didapat secara sembunyi sembunyi dan hanya beberapa orang saja yang tahu bagaimana mendapatkannya. Kebutuhan bahan makanan pokok telur ayam dan daging ayam di Bula sangat tinggi melebihi kebutuhan daging sapi. Daging sapi disini lebih mahal harganya daripada daging rusa, banyak sekali penjual masakan Padang menggunakan daging rusa untuk di rendang atau penjual bakso memberi campuran daging rusa pada pentol baksonya. Dan rasanya tidak jauh berbeda dengan pentol bakso daging sapi. Sedangkan menu ikan laut adalah menu wajib sehari hari penduduk Bula terutama warga asli, ada yang berpendapat kalau sehari tidak makan ikan laut rasanya tidak enak dan efeknya mudah pusing kepala.

 

ikan bakar khas kota Bula (foto;mansyur hasan)

Harga tanah di kota Bula bisa dikatakan murah sekali bila dibandikan dengan kota setara kabupaten di Jawa, mulai dari harga rp.20.000/m2 di tepi jalan besar sampai rp.5.000/m2 untuk tanah yang masih berupa rawa dan hutan.

 

lahan kosong di Bula (foto:mansyur hasan)

Secuil pengalaman pribadi sebagai apresiasi khusus bahwa Bula, Seram Bagian Timur yang masih berusia 8 tahun perlu belajar untuk merangkak, berjalan dan akhirnya berlari cepat menyusul kota kota besar setingkat kabupaten di Indonesia. Satu bukti bahwa pemerataan pembangunan terutama di kawasan timur Indonesia sangat berjalan lambat. Jadi, siapkan anda menjadi salah satu pioner dan inovator penggerak terutama Kawasan Timur Indonesia!?

Itulah kota Bula, kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku.

(Mansyur Hasan Wahyudi – Hotel Damai jl.Pendopo, Bula- SBT Maluku , 9 Januari 2012, 00.51WIT)

 

foto foto lain :

 

penginapan Damai di kota Bula (foto:mansyur hasan)

jalan menuju pantai (foto:mansyur hasan)

 

jalan menuju desa Bula Air (foto:mansyur hasan)

sungai besar di desa Bula Air, Bula SBT (foto:mansyur hasan)

pelabuhan Sesar di kota Bula (foto:mansyur hasan)

kota Bula sisi timur (foto:mansyur hasan)

BULA, Negeri antah brantah di P.Seram Bagian Timur, Maluku (part1)

 

Jalur utama kota Bula (foto:Mansyur Hasan)

Bula, adalah salah satu kota kecil di Seram Bagian Timur hasil pemekaran kabupaten Maluku Tengah selain Seram Bagian Barat dan Maluku Tengah sendiri. Pemekaran wilayah tahun 2004 menjadikan kota Bula bisa dianggap sebagai cikal bakal kota besar seperti kota setingkat kabupaten di Indonesia. Bula masih berusia 8 tahun tepatnya tanggal 18 Januari 2004, sebagai perbandingan kota Surabaya yang sudah berusia 718 tahun, Bula masih bisa dianggap kota yang baru menginjak usia pendidikan dasar dengan pelajaran perhitungan dasar, perkalian dasar juga pengenalan kosa kata bahasa dasar.

Jalan dalam kota Bula, Seram Bagia Timur

Jalan dalam kota Bula, Seram Bagian Timur (foto:Mansyur Hasan)

Bula bisa dicapai dengan beberapa alternatif transportasi. Bila menggunakan pesawat dari Bandara Juanda, Surabaya  menempuh waktu terbang sekitar 2 jam 15 menit menuju Bandara Internasional Pattimura di kota Ambon. Dari bandara banyak sekali tawaran taksi mobil pribadi menuju kota kecil bernama Tulehu. Tulehu adalah kota di ujung pulau Ambon dimana terdapat pelabuhan penyeberangan kapal cepat dan kapal feri menuju pulau Seram. Dari Bandara Pattimura menuju Tulehu ditempuh perjalanan darat sekitar 1 jam dengan tarif rata rata Rp.150.000,- – Rp.200.000,- rupiah untuk satu mobil pribadi/rombongan.

kapal cepat di pelabuhan Tulehu (foto:mansyur hasan)

Sesampai di pelabuhan Tulehu, terdapat 2 jenis kapal penyeberangan  yaitu kapal cepat dan kapal feri. Kapal cepat hanya melayani perjalanan sehari 2 kali penyeberangan yaitu pukul 10.00 WITA dan jam 16.00 WITA, sedangkan kapal feri hanya melayani sekali penyeberangan yaitu pukul 11.00 WITA dari Tulehu menuju pelabuhan Amahai. Harga tiket kapal cepat bisa dibilang mahal, Rp.90.000,- per orang untuk kelas ekonomi dan Rp.150.000,- per orang untuk kelas VIP. Yang membedakan hanya lokasi dek penumpang di atas dan dibawah. Tulehu ke Amahai ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam melintasi perairan laut tenang selat Ambon dengan pemandangan hamparan pantai yang begitu bersih dan indah.

 

perairan selat Seram yang tenang (foto:mansyur hasan)

Pelabuhan Amahai bukanlah pelabuhan besar seperti Pelabuhan tanjung Perak Surabaya, pelabuhan Amahai hanya berupa dok kapal yang  dibuat menjorok ke laut untuk sandar kapal cepat dan feri. Di pelabuhan Amahai banyak sekali yang  menawarkan jasa taksi mobil pribadi (ex.Toyota Innova/Avanza) ke kota Bula SBT. Rata rata tarifnya sekitar Rp.250.000.-/orang. Pelabuhan Amahai merupakan pelabuhan yang paling besar di pulau Seram, terletak di wilayah kota Masohi 10km dari kota. Kota Masohi sendiri bisa dikatakan kota terbesar kedua setelah kota Ambon, ibukota propinsi Maluku. Kota Masohi adalah kota kabupaten Maluku Tengah di pulau Seram. Dari sinilah petualangan perjalanan lintas darat menuju Bula SBT dimulai.

 

pelabuhan Amahai di Masohi, p.Seram (foto:mansyur hasan)

Dengan menempuh perjalanan lintas darat di malam hari, kota Bula bisa dicapai sekitar 8 jam dengan kecepatan rata rata 60-80km/jam dengan taksi mobil pribadi setara Toyota Innova. Dengan lebar jalan untuk 2 jalur mobil, pemandangan hutan asli di samping kanan dan kiri, jalan berkelok-kelok menanjak dan jalan turun, sesekali jalan berbatu yang masih proses peng-aspalan, bukit dan tebing tinggi rawan longsor dan sesekali terlihat babi hutan di tepi jalan. Adalah sebuah perjalanan yang sangat melelahkan sekaligus mengasyikkan melintasi kawasan hutan lindung pulau Seram.  Hanya sekali singah untuk istirahat makan malam tepatnya di desa kecil bernama Wahai, itupun letak desanya berada di tengah hutan belantara dengan pohon pohon asli khas hutan. Jarak tempuh Masohi-Bula kira kira sekitar 340km atau setara bolak balik Surabaya – Malang sebanyak 4 kali. Saya pribadi baru menginjakkan kaki di kota Bula pukul 00.00 WIB atau pukul 02.00 WITA dini hari. Total saya melakukan perjalanan menerus dari bandara Juanda Surabaya – Bula kurang lebih 17 jam sudah termasuk jam istirahat sholat dan makan 2 kali di Tulehu dan Wahai

 

warung SS, 110 km dari kota Masohi di jalan Lintas Seram (foto:mansyur hasan)

Sangat bertolak belakang bila mendengar cerita orang orang yang sudah berjasa mengembangkan kota Bula Seram Bagian Timur (red.pemerintah kabupaten) tentang jalur lintas Seram ini. 3 tahun lalu (tahun 2009) jalan lintas darat tersebut masih berupa jalan berbatu dan belum beraspal, kondisi masih tebing dan rawa sebelum diurug menjadi jalan. Pemandangan mobil terjerembab di lumpur dengan ketinggian selutut orang dewasa adalah hal lumrah, menerabas kubangan rawa, menginap di tengah tengah hutan adalah hal wajar dengan menggelar tikar ataupun tidur di dalam mobil dengan resiko dihampiri babi hutan liar. Rata rata bisa 15jam-18 jam sendiri perjalanan dari Masohi ke Bula dengan terbayang jalan-jalan yang biasa di pakai offroader.

 

jalur Lintas Seram di siang hari (foto:Mansyur hasan)

Memanfaatkan jalur laut pun tak kalah menarik, dari pelabuhan Amahai ke pelabuhan kota Bula bisa ditempuh sehari semalam dan itupun kapal hanya singgah di kota Bula 4 hari sekali,  kapal tersebut melayani pengiriman barang ekspedisi melalui pos dan beberapa pengiriman makanan sembako dari kota Ambon dan kota Kobi, kota penghasil beras di ujung kabupaten Seram Timur sebelah barat.

Satu satunya jalur alternatif transportasi yang paling cepat menuju Bula adalah menggunakan pesawat kecil jenis MBA kargo. Tahun 2007, pesawat ini melayani rute Bula- Ambon tetapi semenjak tahun 2010 pesawat penumpang ini dihentikan kontraknya oleh bupati aktif Abdullah Vanath sebelum  kejadian pesawat yang sama jatuh di pegunungan Sumatera Utara tahun 2010. Pesawat yang ada sekarang adalah pesawat Deraya milik perusahan minyak dan gas bumi Kalrez di Bula, melakukan penerbangan rutin ke Ambon hanya di hari selasa dan kamis dan tidak untuk umum . Pihak perusahaan pun hanya memberi jatah kursi 3 orang untuk pemerintah kabupaten untuk kondisi mendesak rapat koordinasi gubernur di propinsi. Ketika ada tamu penting atau mengundang artis ibukota, jasa pesawat ini sangatlah berharga untuk efektifitas waktu mereka. Beberapa artis yang sudah pernah datang ke Bula antara lain Ikke Nurjanah, Pingkan Mambo, D’Massive Band dan GIGI Band.

 

lapangan udara di kota Bula milik Deraya Airline (foto:mansyur hasan)

Itulah kota Bula, kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku

(Mansyur Hasan Wahyudi – Hotel Damai jl.Pendopo, Bula SBT Maluku , 8 Januari 2012, 23.00WIT)

 

foto foto lain :

 

pelabuhan laut kota Bula, 6km dari kota (foto:mansyur hasan)

lapangan kota Bula, Seram Bagian TImur (foto:mansyur hasan)

 

pegunungan Taman Nasional Manusela , Lintas Seram (foto:mansyur hasan)

pendopo kabupaten kota Bula (foto:mansyur hasan)

pom bensin di kota Bula ( foto:mansyur hasan)

KRDI CEPU EXPRESS , KERETA EKONOMI YANG LAYAK DAN PATUT DIBANGGAKAN

KRDI CEPU EXPRESS

Menjadi salah satu sarana transportasi massal yang paling efektif untuk saat ini, KRDI Cepu Express hadir sebagai hasil karya terbaik anak bangsa. KRDI Cepu Express bermesin diesel ini merupakan produk asli PT. INKA Madiun, Jawa Timur. KRDI Cepu Express ini merupakan salah satu bukti komitmen PT.KAI untuk meningkatkan pelayanan kereta api kelas ekonomi kepada masyarakat sekaligus sebagai pengembangan perkerata-apian nasional. Sejak tahun 2010 PT KAI mulai menerapkan standar fasilitas pendingin ruangan (AC) untuk kereta api kelas ekonomi.

KRDI CEPU EXPRESS

Sejak diresmikan Gubernur Jawa Timur Soekarwo pada bulan September 2011, KRDI Cepu Express melayani 580 penumpang ( 4 gerbong) untuk rute pendek Cepu – Surabaya  dan Surabaya – Cepu.  Pada perencanaannya nanti pelayanan ini akan terus ditingkatkan dengan didukung adanya jalur ganda (double track) yang sekarang sedang mulai dikerjakan. Diharapkan tahun 2014 KRDI Cepu Express ini akan lebih banyak melayani masyarakat sebagai pilihan alternatif sarana transportasi massa khususnya warga Cepu, Bojonegoro, Lamongan dan Surabaya.

Fasilitas KRDI Cepu Express menyuguhkan pendingin udara (AC), susunan tempat duduk 2-2 agar lebih ergonomis untuk perjalanan jarak jauh dengan standart tempat duduk senyaman duduk di sofa, 2 KMWC di setiap gerbongnya, lantai bersih dari bahan dasar vinil (karpet karet),  kelambu jendela jenis roll blinds, pintu gerbong otomatis, 4 tempat sampah di setiap gerbongnya, penanda elektronik/digital signing dan audio. Jangan terkejut ketika melihat banyak petugas keamanan dengan pakaian lengkap berjalan kesana kemari. Hal tersebut sebagai tindak pengamanan para penumpang yang tidak mempunyai tiket, dan juga para penjual asongan yang menyelinap masuk gerbong kereta. Di KRDI Cepu Express penjual asongan hanya diijinkan berjualan melalui jendela dan pintu gerbong kereta ketika kereta berhenti saja tanpa harus naik ke gerbong kereta. Sudah pasti dijamin tanpa ada pemandangan penjual asongan menjanjakan asongannya ketika kereta api berjalan.

KRDI CEPU EXPRESS - foto Mansyur Hasan W

KRDI CEPU EXPRESS - foto Manyur Hasan W

PT.KAI menerapkan ‘tickets on locket’ artinya tiket hanya bisa dibeli pada hari H perjalanan. Tiket tidak dapat dibeli sebelum hari keberangkatan. Mengenai pelayanan tiket langsung, antrian bisa dikatakan cukup wajar sebanyak 6-8 orang dengan estimasi 1 orang dilayani selama  kurang dari 1 menit. Sangat berbeda ketika melihat antrian KRDI Ekonomi biasa yang antriannya kurang lebih sepanjang  40m lebih.

Harga tiket Surabaya Pasar Turi – Bojonegoro sebesar Rp.25.000,-/orang  dengan tempat duduk sesuai tertera di karcis pembelian. Bila dibandingkan dengan angkutan bis umum, KRDI Cepu Express punya nilai lebih selain waktu tempuh lebih cepat juga alasan kenyamanan berkendara lebih nyaman. Bila dibandingkan, menggunakan bis umum dari terminal Osowilangun, Gresik menuju Bojonegoro rata rata  harga tiket Rp. 18.000,-/orang tanpa pendingin ruangan (AC) dan waktu tempuh 3 jam paling lama. Sedangkan menggunakan KRDI Cepu Express hanya membutuhkan waktu tempuh paling cepat 2 jam 10 menit dan paling lama 2 jam 30 menit. KRDI Cepu Express hanya berhenti di stasiun Lamongan, Babat, Bojonegoro dan terakhir Cepu.  Rata rata lama berhenti sekitar 2-3 menit ( kondisional lajur dan jadwal PT.KAI )

KRDI CEPU EXPRESS foto Mansyur Hasan W

KRDI CEPU EXPRESS

KRDI CEPU EXPRESS

anakku Zizi (7bulan), istri dan adik sepupu

Sebagai masyarakat yang sangat mendambakan transportasi massal yang baik dan nyaman, besar harapan agar palayanan transport massal seperti ini segera di standarisasi baik untuk perjalanan luar kota atau dalam kota. Semoga untuk keadaan yang lebih baik ( Mansyur Hasan Wahyudi – Januari 2012)